Maksuddari memantaskan diri adalah berusaha berbenah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena janji Allah, orang baik pasti akan dijodohkan dengan yang baik pula begitu juga sebaliknya, sebagaimana yang telah Allah tegaskan pada Surah an-Nur ayat 26: WAHAI Muslimah, pernahkah kamu mendengar istilah memantaskan diri agar jodoh mendekat? memantaskan diri agar mendapat jodoh terbaik? Sebetulnya tidak ada yang salah untuk memantaskan diri untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Allah SWT berfirman, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula. Mereka yang dituduh itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka yang menuduh itu. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia surga.” QS An Nur 26 BACA JUGA Berbahagialah Orang yang Berniat Melunasi Utangnya Luruskan niat memantaskan dirimu agar proses nya tak sia-sia di hadapan Allah SWT. Coba kamu perhatikan ikhtiar yang kamu lakukan dalam proses memantaskan diri apakah sesuatu yang ingin kamu capai demi penilaian manusia. Jika demikian maka bersiaplah untuk kecewa. Jika kamu memantaskan diri dengan tujuan mendapat penilaian atau pujian dari manusia, berhati-hatilah kamu menjadi orang yang “tidak pantas” untuk seseorang dengan apa adanya dirimu. Hal itu dikarenakan kamu menjadi seseorang yang disibukkan untuk mencapai standar orang lain. Simpelnya, kamu memantaskan diri untuk orang lain, dengan menuntut lebih atas dirimu. Melakukan banyak perubahan hanya demi mendapatkan penilaian orang lain. Mengabaikan potensi yang sesungguhnya ada pada dirimu demi mendapatkan cinta dari manusia, menjadi sosok manusia yang bukan dirimu. Sungguh akan melelahkan ketika kamu beruaha menggapai penghargaan dari orang lain, sedangkan kamu belum menghargai dan mencintai dirimu sendiri. Ketahuilah wahai saudariku, ketika kamu mencintai dirimu sendiri, kamupun akan mudah dicintai orang lain. Fokus saja terhadap kualitas diri yang akan kamu persembahkan untuk Allah. Jodoh itu sesuai cerminan diri, takperlu repot berpura-pura semuanya tampak sempurna. Terlebih jika berharapa pujian dari orang lain, berharap realita sesuai dengan keinginanmu. Hingga niatmu memantaskan diri hanya sebatas untuk manusia. Percayalah kebaikan itu hadir dari hati, ketulusan akan menyebar pada sekelilingmu. Fokuslah pada apa yang layak kamu berikan pada Allah SWT. Meningkatkan kualitas ibadah, mengembangkan potensi diri, mendewasakan mental, memperkaya wawasan, dan memberikan kontribusi terbaik dalam berkarya, adalah banyak hal dari proses memantaskan diri yang wajib kamu bangun. BACA JUGABolehkah Muslimah pakai Make Up? Niatkan dan persembahkan segalanya karena Allah semata, sebagai penunaian tugas sebagai hambaNya yang berkewajiban menanamkan manfaat terhadap diri sendiri maupun terhadap sekitarmu. Pantaskan diri untuk Allah, bukan untuk jodoh. Cukuplah hadirkan keyakinan padaNya, bahwa jodoh yang kelak Allah hadirkan, akan sebanding dengan kualitas dirimu. Insyaa Allah. [] Tulisanini ditujukan adalah untuk memetakan karier perempuan dilihat dari aspek efikasi diri, etos kerja Islam dan kinerja pada karyawan perempuan, serta bagaimana performansi yang dicapai dalam hal etos kerja dan kinerja. Guna menjawab tujuan ini, digunakan metode penelitian yang dapat memberikan panduan cara memperoleh jawaban. Penelitian dalam permasalahan ini merupakan penelitian “Capek Kuliah, Pengen Nikah ajah”, “Capek kerja, pengen nikah ajah”. Kata-kata ini sering kita dengarkan atau bahkan kita sendiri mengucapkan ketika sudah lelah dengan aktivitas perkuliahan; tugas-tugas dari dosen yang menumpuk; dan banyak masalah atau kerjaan dari kantor. Seakan akan setelah menikah semua masalah akan selesai dan berakhir dengan pernikahan. Salah satu yang memicu hal ini ialah romantisasi pasangan suami istri di sosial media atau para selebgram yang memamerkan kemesraan bersama pasangannya sehingga ada stereotip “couple goals” yang didefinisikan oleh masing-masing muda-mudi saat ini. Hal ini memicu banyak anak muda yang dengan mudah ingin menyelesaikan masalahnya dengan menikah tanpa mengetahui hakikat dari pernikahan. * Pernikahan merupakan hal yang sakral dan suci sehingga dalam Al-Qur’an disebut mi tsaqan ghali zan atau perjanjian yang kokoh. Ketika ada keinginan dari dalam diri untuk menikah baiknya bagi calon suami dan istri untuk memantaskan diri bukan hanya mempersiapkan pernikahan. Mempersiapkan pernikahan lebih kepada mengulik-ulik tentang vendor pernikahan untuk mewujudkan “wedding dream”, MUA make up artist siapa yang akan digunakan, fotografer pernikahan, souvenir, dan perintilan nikahan lainnya. Sedangkan memantaskan diri lebih kepada persiapan secara lahir dan batin sebelum memasuki bahtera rumah tangga. Memantaskan diri bisa menjadi salah satu usaha untuk menjemput jodoh. Memantaskan diri sangat bisa dimulai sebelum kita bertemu dengan jodoh kita. Firman Allah dalam An-Nur ayat 26 yang berarti “Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula”. Dari ayat ini meyakinkan kita bahwa Allah Swt pasti memberikan pasangan yang setara dengan diri kita sendiri. Jika seorang laki-laki menginginkan calon pendamping hidupnya ialah seorang yang ahli Qur’an berarti ia juga sudah berusaha menjadi seorang ahli Qur’an. Jika seorang perempuan menginginkan calon pasangan hidup yang berwawasan luas, berarti ia juga sedang berusaha untuk memperluas wawasannya. Sehingga untuk menikah bukan hanya melengkapi syarat dan rukun nikah tetapi dari jauh sebelumnya telah memantaskan diri untuk menikah. Langkah Memantaskan Diri Sebelum Menikah Pertama, dimulai dari memahami diri sendiri. Sebelum ada orang lain yang ingin kita pahami, cintai, dan sayangi yatu seorang suami. Hendaknya kita memahami diri sendiri terlebih dahulu. Menurut Koentjoro, memahami diri sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya sehingga dapat melakukan respon yang tepat terhadap tuntutan yang muncul dari dalam diri maupun dari luar. Beberapa orang dapat mengenali dirinya dengan baik, namun bagi sebagian yang lain belum mengetahui dan memahami dirinya. Salah satu Teknik untuk mengenali diri sendiri digagas oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham dengan mengembangkan konsep Johari Window dengan membagi diri menjadi 4 bagian. Empat bagian tersebut yaitu bagian publik public area ialah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh dirinya dan orang lain; bagian buta blind area ialah bagian yang diketahui oleh orang lain tetapi tidak diketahui dirinya; bagian tersembunyi hidden area ialah bagian yang memuat hal-hal yang diketahui oleh diri sendiri tetapi tidak diketahui orang lain; dan bagian yang tidak disadari unconscious area ialah bagian yang tidak diketahui baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Tetapi ketidaksadaran ini kemungkinan bisa muncul. Kedua, memantaskan persiapan mental dan mengelola emosi. Setelah menikah yang dihadapi bukan hanya suami melainkan beserta keluarganya. Akan banyak sekali watak orang yang kita temui dalam diri suami maupun keluarganya yang mungkin saja akan menguras emosi. Setidaknya dengan mempersiapkan dan belajar mengelola emosi sebelum menikah kita mengetahui bagaimana cara diri kita menyikapi suatu masalah, bagaimana cara self healing ketika menghadapi suatu masalah dalam rumah tangga. Ketiga, memantaskan ilmu. Sebelum menikah tidak ada salahnya kita mulai membaca ilmu ilmu dalam pernikahan, ilmu parenting, manajemen konflik dalam rumah tangga, edukasi tentang seks. Di tengah dunia yang serba canggih, ilmu pun bisa diakses dengan gratis melalui tayangan youtube, kajian-kajian virtual, dan ebook parenting yang tersedia di perpustakaan online. Setidaknya mempunyai bekal lebih baik daripada tidak ada bekal sama sekali. Dengan begitu, para calon suami dan istri sudah memiliki gambaran hal-hal apa saja yang terjadi di dalam rumah tangga. Keempat, persiapan keterampilan dasar. Berumah tangga bukan hanya pemenuhan kebutuhan biologis saja. Akan tetapi di dalamnya dibutuhkan kerja sama berbagi peran antara suami dan istri. Setidaknya untuk para calon suami dan istri sudah memiliki keterampilan dasar sehingga kerja sama dapat terwujud antara keduanya. Keterampilan dasar yang dimaksud seperti memasak. Memasak jangan diartikan sebagai memasak opor ayam, gulai, rendang, dan masakan yang penuh dengan rempah-rempah lainnya. Dimulai dari belajar memasak untuk hal-hal yang sederhana seperti memasak air, menggoreng atau merebus telur, menanak nasi, atau bahkan memasak mie instan. Hal ini bisa menjadi skill bertahan hidup ketika mengarungi bahtera rumah tangga. Selain itu mencuci pakaian sendiri, bersih-bersih rumah atau kamar, menjahit dan lain sebagainya. * Memantaskan diri dengan mempersiapkan diri lahir dan batin juga termasuk salah satu ikhtiar untuk menjemput jodoh. Quraish Shihab juga mengatakan bahwa jodoh itu perlu dijemput tetapi dengan memperhatikan batasan-batasan yang ditetapkan oleh agama dan budaya. Di samping berusaha memantaskan diri dengan melakukan berbagai macam persiapan di atas, tetap tak luput diselingi dengan senjata terbaik bagi seorang muslim yaitu doa. Salah satunya dengan doa “Rabbana hablana min azwajina wa zurriyyatina qurrata a’yun wa ja’alna lilmuttaqi na imama” Artinya, “Ya Tuhan kami, anugerakanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Sehingga tidak perlu menjadi beban apabila jodoh belum nampak, mungkin Allah tahu kamu belum pantas sehingga Allah memberikan waktu kamu untuk memantaskan diri, sebelum Ia datangkan jodoh sesuai dengan yang kamu ikhtiarkan. Mahasiswi Magister Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang tertarik pada isu-isu hukum keluarga. CaraMendekatkan Diri Kepada Allah SWT 1. Mendirikan Sholat Sumber: google/bersosial. Cara mendekatkan diri kepada Allah SWT yang bisa kita lakukan adalah dengan mendirikan sholat. Melalui sholat, umat muslim dapat lebih dekat dengan Allah SWT. Alasannya karena ibadah sholat merupakan perintah wajib yang harus dilaksanakan setiap muslim.

Tanya Ana mau bertanya tentang memantaskan diri, jodoh itu kan di tangan Allah, segala sesuatu tentang jodoh diatur oleh Allah kita sebagai muslimah hanya bisa memantaskan diri, bagaimana sih cara yang tepat untuk memantaskan diri? Ana sdh memutuskan utk tidak pacaran, tidak dekat dengan lawan jenis. Namun ada seorang teman yang berkata, “Masa’ iya kalau kita hanya diam begitu saja jodoh kita akan datang kerumah mengetuk pintu?” Lalu kita sebagai wanita harus bagaimana dan seperti apa dalam penantian? Terimakasih. via emailJawabalaikumussalam wrwb. Terima kasih sudah berkirim email kepada kami. Mbak Iin, betul bahwa jodoh itu di tangan Allah Ta’ala. Kita hanya bisa berusaha. Sama seperti rizki dan kematian, jodoh adalah masalah ghaib. Allah Ta’ala yang mengatur dan menentukan. Namun demikian, sama seperti rizki dan kematian, kita bisa mengusahakan semaksimal kita bisa untuk mendapatkan rizki dan menghindari segala bentuk yang umumnya bisa mengantarkan kepada kematian. Ini persoalan keyakinan kita kepada takdir Allah Ta’ diri itu memang perlu. Sama seperti ketika kita di sekolah. Jika kita sudah bersiap menghadapi ujian sekolah dengan belajar semaksimal kita bisa, insya Allah kita akan mendapatkan hasil sesuai dengan kepantasan yang sesuai. Orang yang tak siap menghadapi ujian karena ia justru malah santai saja, maka hasil yang ia dapatkan juga tak sebagus yang didapat orang lain. Ini soal kepantasan. Jika jodoh tak kunjung datang, tetaplah bersabar. Ada baiknya interospeksi diri, apa yang kurang dalam diri. Mungkin kurang bersyukur atas nikmat Allah Ta’ala, mungkin juga kurang sabar, mungkin juga kurang beramal shalih, mungkin juga kurang taat melaksanakan kewajiban, dan “mungkin-mungkin” lainnya yang bisa dievaluasi secara jika ingin mendapatkan jodoh—apalagi jodoh yang baik, kita juga harus berusaha menjadi baik. Firman Allah Ta’ala yang artinya “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula.” QS an-Nuur [24] 26Jodoh memang harus dicari, tetapi pastikan cara mencarinya sesuai tuntunan ajaran Islam. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai ada yang mudah mendapatkan jodoh, tetapi caranya salah misalnya melalui pelet, guna-guna, sihir. Sebagai muslim kita terlarang melakukan perbuat syirik tersebut. Cobalah Mbak Iin memperluas pergaulan. Misalnya mulai aktif ikut kajian keislaman di masjid atau mejelis taklim, niatnya tentu untuk mencari ilmu. Kadang, jodoh datang bukan dari pertemuan langsung dengan orangnya, tetapi juga melalui orang lain yang mempertemukan dengan jodoh kita. Maka, jika kemudian ada efek samping’ berupa tawaran jodoh, itu bonus’ dari niat ikhlas Mbak Iin dalam mencari ilmu di tempat tersebut. Seringnya kita bertemu dengan orang lain, apalagi yang baik-baik shalih/shalihah, maka peluang untuk mendapatkan jodoh kian terbuka lebar. Tetapi, pastikan tidak ada interaksi yang diharamkan ketika terjadi pertemuan hindari kriteria untuk mendapatkan jodoh dengan kriteria yang muluk atau tinggi. Janganlah mengharapkan kesempurnaan dari orang lain, sementara diri kita masih jauh dari disebut baik. Kadang, ini yang mungkin menjadi penghambat mendapatkan yang perlu Mbak Iin lakukan tawakal, tetap berusaha semaksimal bisa dilakukan, dan barengi dengan doa serta memantaskan perilaku agar sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Semoga Allah Ta’ala memudahkan jodoh Mbak Iin. [Tim Konseling, MuslimahWebID] *Sumber gambar klik di sini

Tipsmemantaskan diri . 1. Belajar taat pada syariat Islam. Belajarlah taat pada syariat Islam. Sebab ketaatan kepada Allah adalah telah
Jakarta - Allah SWT memerintahkan seluruh hamba-Nya untuk menyeimbangkan diri dalam perkara duniawi dan akhirat. Hal tersebut tentu saja karena keduanya sama-sama penting. Meski begitu, apabila sudah dirasa terlalu mencintai dunia, umat muslim dapat menerapkan sikap zuhud dalam kehidupan sehari-hari. Berikut arti dari zuhud beserta buku Awas, Ada Setan di Rumah Anda! yang ditulis oleh Ahmad Zacky El-Syafa, zuhud adalah keadaan meninggalkan kehidupan dunia yang dianggap berlebihan. Meninggalkan maksudnya tidak sepenuhnya menarik diri dari kehidupan dunia, melainkan meninggalkan ketergantungan dan rasa cinta yang berlebihan pada dunia. Dengan menyingkirkan halangan yang menutupi dalam beribadah kepada-Nya, seorang muslim yang zuhud dapat lebih fokus dan tenang dalam menjalani terdapat banyak orang yang masih salah paham dengan arti zuhud. Ada sebagian yang masih menyangka bahwa zuhud selalu identik dengan keterbelakangan, hidup miskin, seadanya, berpakaian kumal, dan lain sebagainya. Zuhud sendiri lebih tepat dikatakan sebagai sikap yang tidak terikat dengan cinta kekuasaan, cinta harta benda, dan hal-hal yang sifatnya duniawi. Zuhud menjadi salah satu hikmah pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi. Adapun menurut al-Taftazani, zuhud dalam Islam tidak bersyaratkan kemiskinan. Bahkan dalam beberapa kasus terdapat seseorang yang kaya dan pada saat yang sama merupakan seorang zahid, yakni sebutan untuk orang yang adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Keduanya sebagai orang terdekat Rasulullah yang dikenal sebagai hartawan sekaligus zahid dengan harta yang mereka miliki. Utsman bin Affan membekali pasukan Nabi Muhammad pada masa paceklik dan membeli sumur seorang Yahudi yang melarang kaum muslimin untuk menimba air sumurnya halnya dengan Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf juga tidak segan-segan memberikan harta niaganya maupun keuntungannya ketika kaum muslimin membutuhkannya. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda, "Jika di antara kamu sekalian melihat orang laki-laki yang selalu zuhud dan berbicara benar, maka dekatilah ia. Sesungguhnya ia adalah orang yang mengajarkan kebijaksanaan."Macam-Macam ZuhudFaidh Kasyani menyebutkan dalam bukunya Etika Islam Menuju Evolusi Diri bahwa zuhud memiliki tiga derajat atau tingkatan. Derajat pertama yang paling rendah adalah keinginan orang zuhud berupa selamat dari neraka dan siksa akhirat. Inilah zuhudnya orang-orang yang kedua berupa sikap zuhud karena ingin mendapatkan pahala dari Allah dan kenikmatan surga. Ini zuhudnya orang-orang yang berharap. Derajat ketiga dan paling tinggi adalah tidak mempunyai keinginan, kecuali kepada Allah dan perjumpaan dengan-Nya. Inilah zuhudnya orang-orang dari sudut pandang hukum, sikap zuhud dikategorikan menjadi wajib, sunnah, dan mubah. Zuhud wajib adalah zuhud dari barang haram, zuhud sunnah adalah zuhud dari barang halal, dan zuhud mubah adalah zuhud dalam barang-barang yang Menjelaskan Sikap ZuhudMenurut para sufi, zuhud adalah berpaling dan mencintai sesuatu ke arah yang lebih baik. Hal itu disebabkan pada pandangan bahwa kehidupan akhirat lebih baik daripada dunia, tentu saja karena kehidupan akhirat lebih baik daripada dunia. Itu semua berkaitan dengan kehidupan di dunia yang temporer dan mudah dari buku Tadabbur Cinta Nyanyian Cinta Para Sufi tulisan H. Ahmad Zacky El-Syafa, terdapat kisah Abu Bakar Ash Shiddiq yang menyedekahkan seluruh hartanya untuk kepentingan jihad Islam. Ia ditanya, "Apa yang engkau tinggalkan, wahai Abu Bakar?" Ia menjawab, "Abqaitu Allah wa rasulahu," yang artinya "Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya."Hal tersebut menandakan bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq menganggap bahwa keimanan pada Allah dan Rasul-Nya menjadi kunci terbaik sebagai warisan darinya. Bukan materi berupa harta dan kekuasaan. Sebab hal yang bersifat duniawi akan menghalangi seseorang dalam menyembah Allah SAW menyatakan dalam sabdanyaاِزْهَدْ فِـي الدُّنْيَا ، يُـحِبُّكَ اللّٰـهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَـا فِي أَيْدِى النَّاس ، يُـحِبُّكَ النَّاسُArtinya Zuhudlah kamu terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, maka mereka akan mencintaimu." HR Ibnu Majah.Adapun terkait salah satu tanda seseorang yang zuhud adalah tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih karena hal yang hilang. Hal tersebut dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al Hadid ayat 23لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙArtinya Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan Orang yang ZuhudDinukil dari buku berjudul Mempertajam Mata Batin dengan Amalan Puasa Ya Man Huwa susunan Dr. Halimatussa'diyah, S. Ag., berikut adalah beberapa ciri-ciri orang yang zuhud1. Mengetahui bahwa kehidupan dan kesenangan dunia hanyalah sementara2. Mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu kekal dan lebih baik3. Memandang bahwa dunia adalah tempat untuk menyiapkan kehidupan akhirat4. Mengeluarkan dari hati kecintaan pada dunia5. Memasukkan kecintaan pada Allah6. Melepaskan diri dari ketergantungan pada makhluk7. Mempunyai anggapan bahwa kebahagiaan bukan diukur dari materi, tetapi dari spiritualitas8. Memandang bahwa harta dan jabatan adalah amanah untuk manfaat orang banyak9. Menggunakan harta untuk berinfak di jalan Allah SWT10. Meninggalkan hal-hal yang berlebihan meskipun halal11. Menunjukkan sikap hemat, hidup sederhana, dan menghindari bermewah-mewahan12. Menjaga anggota tubuh agar terhindar dari segala yang dapat menjauhkan diri dari Allah SWT misalnya menjaga diri dari bicara kotor, selalu menyebut nama Allah SWT, menjaga pandangan, dan lain sebagainyaItulah penjelasan dari arti sikap zuhud dan macamnya. Dengan mengetahui hal-hal terkait sikap zuhud sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, umat muslim dapat lebih bijak dalam mengendalikan hawa nafsu duniawi.
LindungiDiri dari Ancaman pada Platform Online Gaming. Seorang pria memainkan game Honor of Kings di ponselnya di kawasan perbelanjaan dan perumahan Sanlitun, di Beijing, Cina, 25 Agustus 2021 (diterbitkan 26 Agustus 2021). Game online di China sangat populer di kalangan anak muda dan anak-anak, dengan banyak orang yang kecanduan game. “Memantaskan Diri”Jangan sampai memantaskan diri untuk makhluk-Nya, sementara kita lupa kematian adalah hal yang jauh lebih pasti daripada kedatangan berhijrah untuk Allah dan Rasul-Nya maka yang kita tuju adalah keduanya. Ketika kita berhijrah untuk lelaki atau perempuan yang ingin dinikahi, kita hanya mendapatkan الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907Ibnul Aththor menjelaskan maksud penyebutan wanita tersebut setelah kalimat hijrah karena dunia ada dua makna1- Dilihat dari sebab disebutkannya hadits ini, yaitu ada seseorang yang berhijrah karena seorang wanita yang ingin dia nikahi. Wanita tersebut bernama Ummu Qois. Maka laki-laki yang berhijrah di sini disebut Muhajir Ummu Qois, yaitu orang yang berhijrah karena Ummu Penyebutan wanita adalah sesuatu yang khusus dari dunia yang umum yang disebut lebih dulu. Ini menunjukkan peringatan keras bagi yang niatannya keliru hanya untuk mengejar wanita saat sebab itu, hindarkan eksploitasi kalimat “memperbaiki diri untuk mendapatkan pasangan atau juga untuk seseorang”, memperbaiki diri itu untuk memantaskan diri di hadapan Allah, memantaskan diri agar pantas dicintai ikhtiar kita dalam memantaskan diri hanya agar dapat pasangan, ikhtiar kita terbatas, hanya untuk makhluk-Nya saja. Dan kita hanya akan mendapatkan apa yang kita niatkan. Namun jika ikhtiar memantaskan diri kita karena Allah, ikhtiar kita tidak akan mengenal batas, dan balasannya pun beda jangan salah niat, amalan baik seperti hijrah, janganlah diniatkan semata-mata untuk mengejar dunia dan terkhusus lelaki/wanita. Karena diterimanya amalan shaleh adalah jika niatannya ikhlas mengharap wajah Allah tidak untuk selain-Nya, dan disebut baik jika sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Allahu a'
101 "Hai jodohku yang masih dalam genggaman Allah SWT, aku sedang memantaskan diri ini untuk siap menemuimu dengan cara yang halal, dan mencintaimu dengan cara yang halal pula." 102. "Akan lebih baik mempercantik hati dan budi pekerti diri sendiri. Maka pasangan yang baik akan datang menghampiri."

Jum'at, 27 Zulqaidah 1444 H / 8 Maret 2019 2353 wib views Oleh Widya* Bulan Maret, bulan yang identik dengan wanita. Kenapa? Karena pada bulan ini diperingati Women International Day, yakni pada tanggal 8 Maret. Wanita, adalah makhluk Tuhan yang mulia. Mereka memiliki peran yang tidak akan tergantikan oleh pria hebat sekalipun. Islam sangat memuliakan wanita, ketika ia bersama orangtua dan menjadi anak yang sholeha, ia menjadi jalan pembuka surga bagi orangtuanya. Ketika menikah dan menjadi istri, ia pun berperan menentukan surga neraka suaminya. Ketika menjadi ibu, ada yang mengatakan surga di bawah telapak kakinya. Penghargaan terhadap peran ini diberikan oleh Rasulullah SAW yang menempatkan sikap bakti anak lebih utama terhadap ibu daripada ayah. “Seseorang pernah datang dan bertanya kepada Rasulullah SAW, 'siapa yang lebih diutamakan untuk menerima perbuatan baikku?', Nabi menjawab, 'Ibumu', 'Setelah itu siapa lagi?', 'Ibumu', 'Setelah itu siapa lagi?', 'Ibumu', 'Setelah itu siapa lagi?', 'Bapakmu'" HR Mutafaq alaih. Peran seorang ibu sangatlah agung. Ibu yang telah mengandung, melahirkan, dan menyusui anak-anaknya dengan kepayahan. Peran penting lainnya ialah ibu sebagai pencetak generasi masa depan, dari rahimnya kelak melahirkan generasi masa depan cemerlang dan gemilang untuk dapat memberikan peran terbaik bagi peradaban. Ibu pula yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu pula lah yang memiliki peran untuk mengelola rumah tangga suaminya. Rasulullah bersabda, “Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya” ...Sungguh mulianya wanita. Tak perlu ide kesetaraan gender, tak perlu menuntut emansipasi. Allah muliakan wanita sesuai fitrahnya. Lantas, kenapa masih mencari selain islam dalam memuliakan wanita? Perempuan yang menyadari aktivitas ini, akan memantaskan diri untuk menjadi seorang ibu yang hebat. Karena di pundaknyalah tanggung jawab sebagai pilar peradaban. Sebagaimana kita ketahui pilar adalah sandaran. Ibu tempat bersandar suami dan anak-anaknya. Maka, para ibu haruslah kuat baik secara fisik maupun psikis. Bagaimana para ibu memantaskan diri menjadi pilar peradaban? Berikut beberapa cara yang bisa dicoba 1. Berusaha menjadi Muslimah yang berkepribadian tangguh. Maka, agar mendapatkan ketangguhan tersebut sekalipun telah menjadi ibu, ia tidak akan meninggalkan aktifitas tholabul ilmi’ dalam rangka terus meng-upgrade diri untuk menjadi pribadi yang benar di hadapan Allah. 2. Menjadi muslimah yang bertaqwa, sebagaimana disebutkan dalam Al-Hujurat 13, yang artinya, "Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” Para ibu akan menyadari betul bahwa penilaian Allah di atas segalanya. Ia akan berusaha maksimal melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Berupaya lebih kuat untuk mengikatkan diri pada aturan-aturan Allah dalam kehidupannya. 3. Menguasai ilmu pengasuhan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Karena sesungguhnya manusia terbaik adalah Rasul Muhammad yang terbukti telah sukses dalam mendidik keluarganya. 4. Menjadi ibu yang senantiasa ber-amar ma’ruf nahi munkar. Seorang ibu yang memiliki visi bagaimana menjadi pilar peradaban tidak akan bersikap egois. Dia tidak hanya berpikir bahwa hanya diri dan keluarganya saja yang terdidik dengan benar menurut Allah, tapi ia juga akan berupaya untuk mendidik masyarakat. Ia sadar bahwa lingkungan di sekitarnya juga berpengaruh pada pendidikan anak-anaknya, maka ia pun peduli untuk menjadikan lingkungan di sekitarnya menjadi lingkungan yang baik. Ibu yang peduli terhadap masa depan generasi, maka ia pun akan berkiprah sesuai dengan keahliannya dalam membangun peradaban. Peran wanita, peran ibu sebagai pilar peradaban sejatinya merupakan kerja besar dan berat. Maka, hendaklah kita senantiasa melibatkan Allah dalam menjalani perannya. Allah Swt berfirman, “..Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar.” QS. Ali `Imran [3] 173. Sungguh mulianya wanita. Tak perlu ide kesetaraan gender, tak perlu menuntut emansipasi. Allah muliakan wanita sesuai fitrahnya. Lantas, kenapa masih mencari selain islam dalam memuliakan wanita? Tak cukupkah tinta hitam sejarah menggambarkan kecacatan selain Islam dalam memandang wanita dan memperlakukannya? Sudah saatnya kita kembali pada fitrah kita, fitrah iman dan islam yang hakiki. Memeluk islam secara kaffah, menerapkannya dalam sendi-sendi kehidupan kita. Wallahu alam. rf/ Penulis adalah founder Komunitas Muslimah Menjahit dan Storytellingclub. Ilustrasi Google Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita! +Pasang iklan Gamis Syari Murah Terbaru Original FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai. Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas? Di sini Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan > jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub 0857-1024-0471 Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller NABAWI HERBA Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon 60%. Pembelian bisa campur produk > jenis produk.

Berupayalebih kuat untuk mengikatkan diri pada aturan-aturan Allah dalam kehidupannya. 3. Menguasai ilmu pengasuhan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Karena sesungguhnya manusia terbaik adalah Rasul Muhammad yang terbukti telah sukses dalam mendidik keluarganya. 4. Menjadi ibu yang senantiasa ber-amar ma'ruf nahi munkar.
Bertahun-tahun yang lalu, istilah “memantaskan diri” menjadi sebuah primadona. Kalimatnya berbau romantis sekaligus sakral, merujuk pada usaha keras memperjuangkan sebuah hubungan salah satu caranya dengan memperbaiki diri sendiri. Karena katanya orang yang baik akan bersama orang yang baik pula. Jadi, aku pun mulai melakukan banyak perbaikan besar. Jadi senang masak, karena katanya c0wok suka cewek yang bisa masak, dan lain sebagainya. Hingga akhirnya aku sadar suatu harus mengubah diri sendiri agar bisa diterima oleh orang lain? Bukankah, semestinya kita mengubah diri agar bisa diterima oleh diri sendiri? Mengapa harus membuang kebiasaan-kebiasaan buruk agar tidak ditinggalkan pasangan? Bukankah semestinya hal-hal buruk itu ditinggalkan agar kita menjadi lebih baik untuk diri sendiri? Ternyata selama ini aku memaknai kalimat itu dengan keliru. Memantaskan diri, semestinya bukan untuk siapa pun pasanganku nanti, melainkan untuk diriku sendiri. Apa bedanya? Banyak aku memaknai memantaskan diri sebagai upaya menjadi “layak” untuk pasangan. Hingga aku berusaha “mencari” dari luarDulu tujuanku memantaskan diri adalah supaya disegerakan jodohnya. Agar aku tak lagi-lagi mengalami sakitnya patah hati. Karenanya, tanpa sadar aku menjadikan diriku objek untuk sebuah standar dari luar. Aku jadi terpaku pada apa yang diinginkan oleh pasanganku. Perempuan seperti apa sih yang dia suka? Hobi apa yang membuat nilaiku di matanya bertambah? Sikap apa yang harus kupunya supaya dia semakin sayang? Dia suka sama selebgram ini, oh, berarti aku harus menjadi seperti si selebgram. Aku selalu bertanya apa yang membuatnya nyaman, sampai aku lupa bertanya pada diriku sendiri apa yang membuatku konten menarik seputar mencintai diri sendiri Beragam Rumus Self Love dari Podcast. Pengingat Betapa Berharganya DirimuSemestinya aku mencari dari dalam diriku. Sebab mengikuti standar dari luar itu melelahkanPadahal seharusnya kucari dalam diriku sendiri Photo by Elina Sazonova via Mungkin nggak pernah ada definisi yang mutlak untuk sebuah kata “pantas”. Sebab yang pantas pagi A, belum tentu pantas bagi B dan C. Oleh karena itu, sebuah kesalahan bila aku mencari referensi kepantasan diri dari luar diriku. Mungkin itulah yang membuat proses ini terasa sangat melelahkan. Sebab mengikuti standar dari orang lain itu berat. Karena aku ingin menjadi seseorang yang pantas untuknya maka aku pun mati-matian mengikuti “seleranya”. Kuabaikan semua potensi diri sendiri dan menjadi seseorang yang dia mau. Ah, lelah sekali rasanya menjadi seseorang yang bukan ketika kabar baik tak datang juga, aku sibuk menyalahkan diri sendiri. Apa diri ini memang tak layak dicintai?ketika gagal jadi menyalahkan diri sendiri Photo by Tomas Williams via Segalanya memburuk ketika apa yang kuharapkan tak sejalan dengan kenyataan. Apa yang kuperjuangkan ternyata harus direlakan. Apa yang mati-matian kupertahankan ternyata harus dilepaskan. Ketika hal ini terjadi, aku justru menyalahkan diriku sendiri. Dalam benakku yang polos ini, percaya bahwa dia pergi karena ada sesuatu yang salah dari diriku. Sesuatu yang membuatku nggak layak untuk dicintai. Apakah aku memang kurang pantas untuk diperjuangkan sepenuh hati?Kini aku mengerti bahwa “memantaskan diri” yang sesungguhnya bukan untuk orang lain melainkan diriku sendirimemantaskan diri untuk diri sendiri Photo by visionPic via Sesal dan geli itu selalu datang setiap aku mengingat kebodohan di masa lalu. Pemahaman yang salah atas konsep memantaskan diri itu ternyata punya dampak yang begitu besar. Setelah bercak-bercak hitam dalam perjalanan hubungan, kini aku mengerti satu hal. Memantaskan diri yang digembor-gemborkan itu semestinya bukan untuk orang lain. Bukan pacarku saat ini, atau siapa pun jodohku nanti. Satu-satunya yang layak menerima hasil akhir dari upaya meningkatkan kualitas diri ini … ya diriku sendiri. Penentu standar pantas dan nggak pantas itu juga diriku membenahi diri bukan agar layak dicintai orang lain, melainkan agar aku bisa mencintai diriku sendiriagar bisa mencintai diri sendiri Photo by Leah Kelley from Pexels via Mudahnya begini. Bagaimana aku bisa berharap seseorang mencintai dan memperjuangkanku sampai akhir, bila aku nggak bisa mencintai diriku sendiri? Bagaimana orang bisa menghargai setiap potensi dalam diriku ini bila aku sendiri nggak bisa menghargainya sendiri? Sebelum aku melaju ke mana-mana, semestinya kubenahi diri ini untuk diriku sendiri. Aku menuntut diriku sendiri untuk begini dan begitu, agar aku tidak lagi menatap cermin dengan sebuah pertanyaan sesal “kenapa aku begini?” yang menggelanyuti aku sadar bahwa sosok yang bisa kucintai ini, akan mudah dicintai pula oleh orang lainmudah pula dicintai orang lain Photo by Priscilla Du Preez via Mengapa menjadi sosok yang bisa dicintai oleh diri sendiri ini penting? Karena dengan begitu, aku bisa meraih mimpi-mimpiku. Aku berani dan memercayai diriku sendiri untuk mencoba hal-hal baru dan berkembang. Aku mengizinkan diriku sendiri untuk terus belajar sehingga diri ini kaya dengan ilmu. Aku memberi hak seluas-luasnya kepada diriku sendiri untuk menemukan potensi dan mengubahnya menjadi prestasi. Aku memberi kesempatan pada diriku untuk berkenalan dengan banyak orang dan tak gentar menjalin relasi. Diri yang seperti itu, bukankah mudah juga dicintai oleh orang lain?Memantaskan diri agar bisa dicintai oleh orang lain itu sangat melelahkan dan membuatmu terombang-ambing dalam ketidakpastian. Sebab apa yang pantas untuk A dan B belum tentu sama. Tetapi, memantaskan diri agar dicintai oleh dirimu sendiri lebih mudah dan efeknya bertahan untuk jangka panjang. Bonusnya, kepercayaan diri dan kenyamanan atas diri sendiri itu membuatmu bisa menjadi sosok yang lovable dan mudah dicintai. Aku, sih, pilih yang kedua. Kalau kamu?
UKsG.
  • mb2j0y5u09.pages.dev/220
  • mb2j0y5u09.pages.dev/251
  • mb2j0y5u09.pages.dev/370
  • mb2j0y5u09.pages.dev/356
  • mb2j0y5u09.pages.dev/135
  • mb2j0y5u09.pages.dev/279
  • mb2j0y5u09.pages.dev/51
  • mb2j0y5u09.pages.dev/32
  • mb2j0y5u09.pages.dev/332
  • memantaskan diri dalam islam